Reboisasi Mental

mereboisasi tamanTulisan ini terinspirasi dari teman kerja yang duduk di sebelah kanan saya, ketika beliau memutuskan untuk tidak bersedia merevolusi mental, maka saya menyarankan beliau untuk mereboisasi mental hahaha…..beliau memang inspiratif bingits :D. Oke, itu latar belakangnya, ya kalau ada yang menyebut tulisan ini terinspirasi oleh tulisan-tulisan bab revolusi mental, #akurapopo. Yang pasti, kalo ada tulisan yang ternyata sama judulnya, tapi penulisnya berbeda, maka itu adalah ketidaksengajaan alias kebetulan saja, dan kalau ternyata tulisan yang lain lebih dahulu di publish, maka saya mohon maaf dan tidak ada niat menjiplak :D

Baiklah, apa yang anda ingat kalo mendengar kata reboisasi? Kata reboisasi ini, barangkali pertama kali saya, anda, kita semua dengar ketika masih SD. Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang gundul. Mengapa perlu ditanam kembali? karena ada yang menebang. Jadi, sebelum ditebang, hutan tersebut tidaklah gundul, tetapi ditumbuhi dan dipenuhi oleh pepohonan. Kemudian ada yang menebang pepohonan dan tanaman dan kemudian hutan tersebut jadi gundul. Untuk itulah perlu dilakukan reboisasi. Agar hutan yang ada menjadi hijau kembali, dan berfungsi sebagaimana mestinya hutan. Bab fungsi hutan tentu tak perlu diperjelas lagi, yang pasti, hutan hanya akan berfungsi optimal jika dan hanya jika hutan tersebut ditumbuhi tanaman dan pepohonan dengan banyak dan baik.

Nah, apalagi ini reboisasi mental. Reboisasi mental adalah menumbuhkan kembali mental positif yang dulu pernah ada. Rasanya, semua dari kita pernah merasakan masa kecil yang indah. Nah, anak-anak kecil ini, memiliki berbagai mental positif. Misalnya anak kecil yang tak pernah memiliki rasa dendam. Anak saya saja, kadang nangis saya godain, tapi ga lama dari itu, tetep aja minta main bareng hahaha…. Atau anak kecil yang tak pernah memiliki rasa menyerah untuk belajar berjalan. Jatuh bukanlah suatu baseline akhir untuk menghentikan pembelajaran. Jatuh, ya bangun lagi. Atau mental idealisme kita yang begitu tinggi ketika masih menjadi mahasiswa. Idealisme tentang demokrasi, idealisme tentang beraktivitas dengan teman-teman untuk menyebarkan kebaikan. Atau sebuah mental menghamba yang sering disebut fitrah. Bahwa setiap anak yang baru lahir, termasuk kita dulu ketika baru lahir, kita juga dibekali mental menghamba hanya kepada Tuhan.

Barangkali sekarang ini kita juga masih memiliki mental menghamba, menghamba kepada materi, kepada atasan, kepada selain Tuhan. Maka mereboisasi mental berarti mengembalikan mental menghamba kita kepadaNya saja, tidak kepada yang lain. Jika kita saat ini, sudah sulit memegang idealisme untuk beraktivitas kebaikan ketika kuliah, atau bahkan menyerang teman-teman kita yang tetap memegang idealisme itu, barangkali, kita juga butuh untuk mereboisasi mental kita. Begitu juga dengan mental-mental positif lain yang tumbang dan terpangkas oleh lingkungan, perlu rasanya bagi kita untuk mereboisasi mental kita, agar mental-mental positif tetap tumbuh dan rimbun di otak kita.

Nah, bagaimana, mau mengingat kembali mental positif di masa lalu yang telah gundul dan siap mereboisasi mental kita?

Salam kreativitas tanpa batas!!!

Beban Bahagia

Image

Rasanya, akhir-akhir ini, ada seorang tokoh yang memberikan efek yang sangat cetar dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Beliau adalah salah seorang capres dari salah sebuah partai. Meskipun masih capres, namun beliau sebenernya adalah seorang raja, raja dangdut hehe… Dari banyak lagu yang sering diputar di berbagai radio, televisi maupun warung mie instan dan tukang bubur adalah lagu santai. Saya tau lagu itu, tentu saja karena begitu memasyarakatnya lagu, lagu beliau, saya bukanlah penggemar dangdut dan tidak juga berencana memilih beliau untuk menjadi presiden jika akhirnya beneran jadi capres :D

Bahkan saya menduga, saking memasyarakatnya lagu ini, lagu santai ini sepertinya begitu mendarah daging bagi banyak orang, mungkin termasuk anda. Percaya saja lah, daripada saya harus meminta dan mengeluarkan hasil survey dari cak lontong tentang ini hahaha…. Bahkan rasanya, saking mendarah dagingnya, lagu ini, sampai-sampai menjadi sebuah prinsip hidup. Menghadapi tugas, sekolah, kuliah, tesis, pekerjaan dan berbagai amanah, hadapi dengan santai. Walaupun saya tidak pernah mentadaburi lagu santai itu, tapi rasanya bukan santai seperti itu yang diharapkan oleh bang haji :D

Maka seharusnya menghadapi hal-hal seperti tugas, sekolah, ujian, kuliah tesis dan pekerjaan, menurut saya kita harus menganggapnya sebagai beban. Beban itu rasanya memang berat, tetapi kalau sudah berhasil menggendongnya dan mengantarnya sampai tujuan, tentu perasaan bahagia yang tak terkira menjadi nuansa yang sangat dominan dalam hati kita. Menjadikannya menjadi beban, tentu saja membuat kita memiliki sebuah dorongan untuk menyelesaikannya dengan semaksimal dan sesempurna mungkin. Menjadikannya menjadi beban, juga akan membangkitkan semangat untuk segera menyelesaikannya, karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau terbebani seumur hidupnya, pengennya kan sesegera mungkin terlepas dari beban :D Apa anda pernah liat, buruh gendong, lagi nggendong beban dan berjalan santai sambil mesam mesem bahagia? kalo dah sampe finish dan naruh beban, trus dapet duit baru mesam mesem bahagia kan :D

Nah, bagaimana kalo hal-hal tersebut dibikin santai dan tidak menjadi beban, efeknya, tidak sedikit yang lulus kuliah molor #ehm, kerjaan ga beres-beres, bahkan sampai ngeblognya males dan bolong-bolong hahaha….. Semoga menulis di blog bisa saya jadikan beban, sehingga kampoeng inspirasi ini menjadi lebih hidup dengan lantunan posting :D

Okelah kalo begitu, masih mau santai atau mau menjadikan hal-hal yang pantas dan mulia menjadi beban, dan dengan beban itu anda bersungguh-sungguh dan bersegera menyelesaikannya?

Salam kreatifitas tanpa batas!!!

 

Men-DP Ramadhan

ImageSebelum membaca postingan ini, anda sebaiknya membaca postingan sebelum ini, biar agak nyambung dan biar saya agak mudah menyambungkan dan memulai postingan ini :D Tapi sepertinya anda sebagai pembaca setia blog ini, anda sudah membacanya :D

Di postingan sebelumnya ada sesuatu yang menyenangkan, yaitu tentang cicil mencicil hehe… Nah, sebenernya tak ada yang perlu dibanggakan dengan mencicil, kecuali anda mencicil pekerjaan anda :D Tapi, meskipun tak ada yang bisa dibanggakan dari mencicil, buanyak sekali orang yang mengikuti madzhab cicil mencicil ini. Dari survey yang ada menyebutkan, sembilan puluh persen orang yang gajinya dipotong setiap bulan oleh bank tertentu adalah orang yang sedang mencicil, sementara sepuluh persen yang lain adalah bukan, bukan orang yang membeli sesuatu dengan cash. Nah, dari orang yang mencicil itu, sembilan puluh sembilan persen diantaranya, merasa cicilannya berat, sementara sisanya merasa cicilannya tidak ringan. Survey lengkapnya bisa anda tanyakan kepada cak lontong :)))

Sebenernya, kalau kita ngomongin bab cicil mencicil, rasanya memang tidak ada orang yang mengatakan ringan mencicil, umumnya mereka kok mengeluh, hanya orang-orang yang menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong yang tidak mengeluh :D Bab cicil mencicil ini sebenernya ada strateginya. Kalo mau mencicilnya agak berat (karena tak ada cicilan yang ringan, yang ada adalah agak berat, berat dan sangat berat) maka perbesarlah uang wajah eh uang muka atau DP. Semakin besar DP maka akan semakin agak berat cicilan. Tapi hal ini tidak berlaku jika untuk membayar DP, anda meminjam uang dan mencicilnya juga :))) Dan hal ini berlaku untuk semua perkreditan, rumah, mobil (mungkin) dan lain-lain.

Oke, bagaimana dengan Ramadhan, bulan yang begitu mulia dan dirindukan oleh orang-orang yang menjadikan sabar dan sholat sebagai penolongnya :D

Umumnya, masing-masing memiliki target tertentu di bulan Ramadhan, tentu saja saya sangat berharap bahwa anda juga salah satu yang memiliki target di bulan Ramadhan. Ada yang mau khatam AlQuran sekian kali, sholat tarawih tidak pernah bolong, sholat malam tidak pernah absen, menghafalkan surat tertentu, bahkan mungkin ada yang menghafalkan semua juz di warung jus deket rumahnya (beli buat berbuka) misalnya. Nah, semua-muanya ini tentunya akan terasa sangat berat jika anda tidak men-DP-nya terlebih dahulu. Istilahnya njeglek, ga pernah ngaji tiba-tiba di bulan Ramadhan targetnya khatam dua, tiga atau bahkan lebih. Maka, jika anda kira-kira punya target seperti itu, mulailah men-DP dengan mengaji. Pengen membuka puasakan orang setiap hari, tapi ga nabung dari sekarang, nah kalo ini gapapa, kalo anda punya banyak uang hehe…kalo ga punya ya mulailah men-DPnya dengan menabung dan bersedekah. Kalo kira-kira badan sulit untuk berpuasa dan beribadah di malamnya, mulailah berpuasa sunnah dan bersepeda (biar nyambung ama gambarnya :D)

That’s all, mari mulai mikir (kata-kata cak lontong) tentang Ramadhan, karena orang-orang hebat jaman dahulu menyiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Siapkan target dan mari mulai men-DP Ramadhan

 

Tak Terasa Yang Menyenangkan

Image

Baiklah, saya akan memulai menulis dengan memberitahukan kepada anda sekalian bahwa tak selamanya memulai dari yang kecil itu baik. Buktinya, ketika anda memulai blog yang kecil (baca : mikro blogging), maka anda memiliki peluang untuk tidak memulai blog yang tidak kecil. Tapi tenang saja, itu tak berlaku untuk anda saja, karena saya juga mengalaminya :))

Tapi sudahlah, yang lalu biarlah berlalu dan ijinkan saya memohon maaf kepada ribuan pembaca setia blog ini atas keterjarangan saya mengupdate blog ini. Karena menurut survey yang dilakukan cak lontong tentang kerinduan para pembaca setia menanti postingan di blog ini, dari seribu pembaca setia blog ini, sembilan ratus orang diantaranya tidak mau disurvey, dan seratus orang diantaranya bukan pembaca setia blog ini, jadi tidak mau disurvey.

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, setidaknya tidak kurang dari setahun saya tidak memposting sesuatu yang cetar membahana di blog ini. Sebenernya, pernyataan waktu berjalan begitu cepat ini, sering sekali berasosiasi dengan sesuatu yang kurang menyenangkan dan seolah-olah kita tidak memanfaatkan waktu dengan baik, misalnya tak terasa udah setahun lebih saya malas ngeblog. Seolah-olah, waktu yang ada itu kita gunakan dengan tidak bermanfaat, hanya bermalas-malasan saja. Padahal saya setahun lebih ga ngeblog karena sibuk bekerja :))

Tetapi, saya sendiri menemui satu kelanjutan dari kalimat tak terasa ini, yang kelanjutannya sepertinya membahagiakan. Kalimat tersebut adalah, tak terasa waktu berjalan begitu cepat… dan cicilan rumah udah tercicil setahun, tinggal 14 tahun lagi :)))

Waktu tak terasa yang sangat menyenangkan bukan :D

Nah, anda punya tak terasa yang menyenangkan apa? :D

 

Jangan Menumpuk Bantal Terlalu Tinggi

Tidur, siapa yang tak pernah tidur. Bahkan sering dikatakan bahwa, orang yang tidak tidur akan lebih cepat berjumpa denganNya dibandingkan dengan orang yang tidak makan hehe….Pasti lah semua pernah tidur, bahkan ada yang menjadikan tidur sebagai sebuah hobi. Tidur akan menjadi hobi yang murah meriah, jika anda tidur dan ngorok, kalo tidur tapi ga ngorok ga jadi meriah hahaha….

Dalam aktifitas tidur itu, sering sekali ada sepasang barang yang sangat identik dengan tidur. Bantal dan guling, bahkan ada yang membuat semacam anekdot untuk orang yang ngantuk, bahwa dia sudah kecium bau bantal. Meskipun tidur itu merupakan aktifitas yang minim resiko, tapi ada saja orang yang setelah bangun tidur menjadi tidak enak badan, wa bil khusus tidak enak leher. Sakit, ga bisa noleh ke kanan atau ke kiri dan sebagainya. Kalau anda mau mencobanya, coba saja, Continue reading ‘Jangan Menumpuk Bantal Terlalu Tinggi’

Macetnya Jalan Kehidupan

Tidaklah menjadi sebuah berita yang asing atau baru, ketika mendengar berita tentang kemacetan jalan. Tak hanya di ibukota Jakarta, yang semoga dengan dibuatnya tulisan ini kemudian terpilih pemimpin b4ru y4ng f4nt4stik :D , tetapi juga di mana-mana, tak hanya di kota tapi juga di desa :D
Kalau dianalisa lebih dalam, tentunya banyak sekali penyebab dari kemacetan jalan tersebut. Mulai dari terlalu banyaknya kendaraan, jalanan yang sudah tak cukup untuk menampung kenaikan jumlah kendaraan, dan berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus penyebab lain yang saya sendiri tak bisa sebutkan karena tak tahu alasannya apa saja :D
Ada satu hal yang menurut saya juga menjadi alasan, yaitu karena banyak orang yang memilih jalan yang sama :D . Seandainya orang kreatif, memilih jalan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, niscara jalannya akan kebanyakan hehehe… niscaya jalanan agak sedikit longgar, terhindar dari rebutan jalan, selip kanan selip kiri tak tau aturan, semrawut bahkan sampai celaka.
Ketika kuliah dulu, jalanan macet ini sering menjadi analogi yang pas untuk menggambarkan istilah bandwith. Umpamakan bandwith itu sebuah jalan, maka, semakin banyak orang yang melewati jalan itu, maka jalan itu semakin macet, dan butuh waktu lama untuk sampai pada tujuan. Pada kasus bandwith, maka kecepatan koneksi akan berkurang, dan untuk sekedar membuka satu halaman, mungkin dibutuhkan waktu yang sama dengan kita membuat kopi di dapur dan kembali lagi di depan komputer kita :D
Continue reading ‘Macetnya Jalan Kehidupan’

Menempatkan Kesalahan

Sejak lama, rasanya kita mengenal sebuah peringatan, buanglah sampah pada tempatnya atau terima kasih telah membuang sampah pada tempatnya, dan berbagai macam kalimat peringatan sejenis. Kalimat tersebut sangatlah mulia. Tentu kita semua tahu dan paham bahwa, sampah adalah hal yang sangat tidak nyaman untuk dinikmati, lalu bagaimana kalo sampah tersebut kemudian dibuang secara asal-asalan dan membabi buta. Tempat yang seharusnya indah untuk dinikmati, menjadi kotor dan cenderung tidak nyaman untuk dilihat.
Lalu apa kaitannya antara sampah dan kesalahan. Mungkin kurang terkait, tapi jika sedikit kita ubah menjadi antara sampah dan menyalahkan, tentunya dua hal ini bisa dikaitkan. Sampah, dihindari dan tidak disukai orang. Menyalahkan tentunya tidak berbeda. Menyalahkan cenderung dekat dengan kemarahan, dan rasanya tidak ada satu orang pun yang masih normal, mau disalahkan dan dimarahi :-D
Lalu kalau sampah dan (anggap saja) kesalahan itu serupa, tentu perlu juga kita menempatkan kesalahan pada tempatnya juga. Hal ini diperlukan agar, kesalahan-kesalahan (menyalahkan) orang betul-betul mampu kita sikapi secara proporsional. Continue reading ‘Menempatkan Kesalahan’



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.