Asas Pembuktian Terbalik

Beberapa waktu yang lalu(sampe sekarang sich)  kasus suap dan korupsi begitu  rajin menghiasi layar kaca. Bahkan cerita-cerita dan kasus-kasus ini sepertinya mengalahkan sinetron-sinetron yang sudah menjadi acara kaporit eh favorit keluarga Anda. Lha iya, wong saya belom berkeluarga, jadi ga ada acara favorit keluarga saya hehe…

Ada satu istilah menarik waktu itu yang juga menjadi satu topik pembahasan. Satu asas dalam hukum, yaitu asas pembuktian terbalik. Saya sich bukan pakar hukum, belajar hukum aja ga pernah, tapi untuk sahabat sekalian, apa coba yang engga saya ceritain😀 . Asas pembuktian terbalik ini gampangnya kebalikan dari asas praduga tak bersalah. Itulah kenapa asas pembuktian terbalik ga bisa dipakai di Indonesia. Kalau asas praduga tak bersalah menjadikan si tersangka ga bersalah dan yang laen silakan membuktikan kesalahannya, maka pembuktian terbalik memperlakukan si tersangka sebagai seorang yang bersalah dan silakan membuktikan ketidakbersalahannya. Makanya asas pembuktian terbalik ini begitu didengung-dengungkan oleh para penggiat anti korupsi karena sangat efektif untuk membuktikan dana para yang dianggap koruptor itu dari mana asalnya. Setidaknya itu yang saya pahami tentang asas pemikiran terbalik.

Setidaknya, asas ini mengingatkan saya pada salah satu cara untuk menjadikan orang kreatif yang sempat disampaikan oleh pak dhe bono dalam bukunya “how to have beautiful mind” (kalo ga salah inget ). Di buku itu diceritakan bagaimana kita harus memiliki banyak topi pemikiran. Memandang sesuatu dari banyak sisi. Kalo kita terpaku pada satu sisi ya pikirannya hanya itu itu saja…jadi akhirnya ga keluar ide-ide kreatipnya…makanya jangan terpaku, terpaku itu sakit hehe..

Pikiran inilah yang kemudian saya pakai ketika ketemu dengan pak polisi ketika berangkat bekerja. Dulu dan memang sudah terbukti, kalo ada polisi, pasti jalanan malah jadi macet. Berbeda dengan ketika ga ada polisi dan biarkan semuanya berjalan sebagaimana biasanya saja. Yang awalnya bisa brutal-brutalan di pertigaan, jadi harus tertib dan mengikuti instruksi polisi, hasilnya ga lancar juga, malah antrian jadi panjang dan lama kayak salah satu merk coklat. Jadi beralasan juga kalo saya berpikiran bahwa adanya pak polisi inilah yang menjadikan macet.

Hanya saja dengan toeri pak de bono tadi saya mencoba memandang dari sisi laen. Atau bagaimana kalo saya juga menerapkan asas pembuktian terbalik pada apa yang saya temui. Akhirnya saya berusaha mengambil kesilmpulan bahwa justru karena macetlah ada pak polisi, dan kalo ga ada pak polisi bisa jadi tambah runyam kemacetannya.

Hmm….ternyata kalo dari awal kita udah berpikiran negatip, kita perlu menerapkan asas pembuktian terbalik. Tidak sekedar untuk memandang masalah ini dari sisi yang lain, tidak sekedar mencoba belajar kreatifitas, tapi juga belajar untuk berpikir positip. Bukankah dengan senantiasa berpikir positip justru hidup kita semakin menyenangkan….

Bagaimana??? Apakah kreatip dan kemudian berpikir positip tidak menggoda anda….

SALAM KREATIFITAS TANPA BATAS!!!

0 Responses to “Asas Pembuktian Terbalik”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: