Reboisasi Mental

mereboisasi tamanTulisan ini terinspirasi dari teman kerja yang duduk di sebelah kanan saya, ketika beliau memutuskan untuk tidak bersedia merevolusi mental, maka saya menyarankan beliau untuk mereboisasi mental hahaha…..beliau memang inspiratif bingits😀. Oke, itu latar belakangnya, ya kalau ada yang menyebut tulisan ini terinspirasi oleh tulisan-tulisan bab revolusi mental, #akurapopo. Yang pasti, kalo ada tulisan yang ternyata sama judulnya, tapi penulisnya berbeda, maka itu adalah ketidaksengajaan alias kebetulan saja, dan kalau ternyata tulisan yang lain lebih dahulu di publish, maka saya mohon maaf dan tidak ada niat menjiplak😀

Baiklah, apa yang anda ingat kalo mendengar kata reboisasi? Kata reboisasi ini, barangkali pertama kali saya, anda, kita semua dengar ketika masih SD. Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang gundul. Mengapa perlu ditanam kembali? karena ada yang menebang. Jadi, sebelum ditebang, hutan tersebut tidaklah gundul, tetapi ditumbuhi dan dipenuhi oleh pepohonan. Kemudian ada yang menebang pepohonan dan tanaman dan kemudian hutan tersebut jadi gundul. Untuk itulah perlu dilakukan reboisasi. Agar hutan yang ada menjadi hijau kembali, dan berfungsi sebagaimana mestinya hutan. Bab fungsi hutan tentu tak perlu diperjelas lagi, yang pasti, hutan hanya akan berfungsi optimal jika dan hanya jika hutan tersebut ditumbuhi tanaman dan pepohonan dengan banyak dan baik.

Nah, apalagi ini reboisasi mental. Reboisasi mental adalah menumbuhkan kembali mental positif yang dulu pernah ada. Rasanya, semua dari kita pernah merasakan masa kecil yang indah. Nah, anak-anak kecil ini, memiliki berbagai mental positif. Misalnya anak kecil yang tak pernah memiliki rasa dendam. Anak saya saja, kadang nangis saya godain, tapi ga lama dari itu, tetep aja minta main bareng hahaha…. Atau anak kecil yang tak pernah memiliki rasa menyerah untuk belajar berjalan. Jatuh bukanlah suatu baseline akhir untuk menghentikan pembelajaran. Jatuh, ya bangun lagi. Atau mental idealisme kita yang begitu tinggi ketika masih menjadi mahasiswa. Idealisme tentang demokrasi, idealisme tentang beraktivitas dengan teman-teman untuk menyebarkan kebaikan. Atau sebuah mental menghamba yang sering disebut fitrah. Bahwa setiap anak yang baru lahir, termasuk kita dulu ketika baru lahir, kita juga dibekali mental menghamba hanya kepada Tuhan.

Barangkali sekarang ini kita juga masih memiliki mental menghamba, menghamba kepada materi, kepada atasan, kepada selain Tuhan. Maka mereboisasi mental berarti mengembalikan mental menghamba kita kepadaNya saja, tidak kepada yang lain. Jika kita saat ini, sudah sulit memegang idealisme untuk beraktivitas kebaikan ketika kuliah, atau bahkan menyerang teman-teman kita yang tetap memegang idealisme itu, barangkali, kita juga butuh untuk mereboisasi mental kita. Begitu juga dengan mental-mental positif lain yang tumbang dan terpangkas oleh lingkungan, perlu rasanya bagi kita untuk mereboisasi mental kita, agar mental-mental positif tetap tumbuh dan rimbun di otak kita.

Nah, bagaimana, mau mengingat kembali mental positif di masa lalu yang telah gundul dan siap mereboisasi mental kita?

Salam kreativitas tanpa batas!!!

2 Responses to “Reboisasi Mental”


  1. 1 archnine June 10, 2014 at 8:19 am

    zuper sekali bopak praset ini:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: